
Alhasil, kesibukan tersebut terkadang membuat orangtua hampir tidak memiliki waktu untuk bersama dengan anak-anak. Mereka masih beranggapan bahwa pendidikan anak (hanya) tanggung jawab dari lembaga pendidikan terkait.
Kondisi seperti ini yang sering menjadi kendala disebuah lembaga pendidikan formal ataupun non-formal dalam mendidik anak. Komunikasi antara pihak sekolah dengan keluarga (orangtua) tentang kondisi anak disekolah dan ataupun dirumah tidak terjalin dengan baik . Sementara, latar belakang keluarga akan mempengaruhi karakter dan pendidikan anak disekolah.
Sesuai dengan kurikulum yang diberlakukan oleh pemerintah, strategi pendidikan dalam mendidik anak sudah dirancang sedemikian rupa supaya anak didik memperoleh pendidikan yang terbaik. Beberapa sekolah yang berbasis keagamaan juga menyelenggarakan kurikulum tambahan untuk terciptanya proses pendidikan yang maksimal terhadap anak didik, yang umumnya dalam hal karakter.
Namun, bagi sebagian siswa hasil pendidikan dari berbagai strategi pendidikan yang diterapkan belum memberikan hasil yang maksimal. Hal ini menggambarkan bahwa sangat perlunya peranan keluarga dalam membantu penyelenggaraan proses pendidikan anak di sekolah. Pun waktu anak tetap lebih banyak bersama keluarga dan privasi seorang anak lebih banyak diketahui oleh pihak keluarga. Dalam artikel ini, Penulis mengutarakan peranan-peranan keluarga dan penguatannya untuk terciptanya pendidikan anak yang maksimal.
Memilih sekolah yang tepat untuk anak
Memilih lembaga pendidikan yang tepat untuk bersekolah salah satu faktor penting dalam mensukseskan pendidikan anak. Sekolah swasta atau negeri, menengah atas atau kejuruan, sekolah yang berbasis agama, sampai kepada besaran SPP ( Sumbangan Pembinaan Pendidikan).
Orangtua harus mempertimbangkan kondisi sosial-ekonomi keluarga dengan pemilihan lembaga pendidikan untuk anak. Kehidupan sosial anak dari keluarga sederhana bisa saja kurang baik, ketika bersekolah di sebuah lembaga pendidikan yang rata-rata anak didiknya dari kalangan keluarga menengah keatas.
Menghindarkan anak dari kebiasan keluarga yang kurang baik.
Dalam sebuah keluarga mungkin ada kebiasaan kurang terpuji ; orangtua terkadang berantam (kekerasan dalam rumah tangga), orangtua mempunyai kebiasaan mabuk dan lain sebagainya. Terutama ketika anak masih SD dan SMP, kebiasan-kebiasan seperti ini sangat mempengaruhi psikologis anak. Untuk itu, orangtua yang mempunyai kelakuan yang kurang baik untuk dihindarkan dari anak.
Membiasakan anak untuk melakukan hal-hal kecil yang positif
Melakukan hal kecil yang positif tentu akan sangat berpengaruh ketika anak sudah berhadapan dengan hal yang besar. Membuang sampah pada tempatnya; menyapa dan salaman ketika berpisah dan bertemu orangtua sehingga anak terbiasa hormat kepada orang yang lebih tua; mandi, makan, bermain , belajar pada waktunya; dan rajin beribadah. Kebiasan-kebiasan ini akan mengisi waktu anak dengan hal yang baik dan akan terbiasa dengan kebaikan. Disekolah, kebiasaan itu secara tidak sengaja akan dilakukan oleh anak dengan sendirinya.
Misalnya, ada sebuah kasus; seorang anak SD, pada suatu hari minggu, orangtuanya melarang si anak pergi beribadah ke gereja. Besok harinya si anak dihukum guru agama disekolah karena tidak bisa memberikan alasan kepada guru, takut memberitahu alasan yang sebenarnya. Dalam hal ini, orangtua seharusnya membantu guru disekolah dalam pembinaan moral anak melalui “taat ibadah”. Terkadang orangtua tidak menyadari perbuatan seperti ini akan berpengaruh negatif terhadap anak. Psikologis anak juga terganggu ketika takut jujur kepada guru.
Memperhatikan kebiasaan dan perubahan anak.
Pada umumnya, anak bisa paling dekat kepada orangtua, lebih terbuka, bahkan bisa juga yang paling ditakuti. Kehidupan pribadi anak bisa saja diketahui orangtua karena diberitahu (curhat) anak atau bahkan tidak ketahui sama sekali. Orangtua seharusnya tahu tentang apapun dalam diri anak, memperhatikan sedetail mungkin perubahan yang terjadi pada anak. Perubahan-perubahan anak meliputi; biologis, sikap, kebiasaan, aktivitas dan kehidupan sosialnya. Kehidupan anak bisa berubah kapan saja dan berbeda untuk setiap anak. Emosional anak biasanya cenderung labil sehingga sangat sensitif dengan perubahan dan pengaruh faktor tertentu. Oleh karena itu, peran keluarga (orangtua) dan ataupun pihak sekolah sangat diperlukan
Komunikasi yang baik dengan sekolah
Anak bisa saja memiliki perilaku dan kebiasaan yang berbeda dihadapan orangtua dan dihadapan orang lain seperti halnya di sekolah. Orangtua harus tetap memiliki komunikasi dengan pihak sekolah dalam frekuensi tertentu sehingga orangtua dan pihak sekolah memiliki pemahaman yang sama tentang anak. Orangtua dan pihak sekolah bisa saling membantu dan ataupun saling melengkapi untuk mendidik anak.
dan Motivator bagi anak
Orangtua harus bisa menjadi motivator bagi anak. Salah satu alasan orang berusaha menjadi sukses adalah supaya bisa menjadi teladan bagi keturunannya. Namun, ukuran kata ‘sukses’ bagi setiap orang bisa berbeda. Jika anak belum memandang orangtua adalah orang sukses, banyak hal yang bisa menjadi bahan motivasi bagi anak. Orangtua bisa menceritakan cita-cita yang tertunda, menceritakan keluarga ataupun kawan yang sudah berhasil dalam hidupnya




